Skip to content

Kisah Hilangnya Pendaki di Gunung Lawu

Written by

author

Mendaki gunung menjadi hobby sebagian orang. Namun, banyak orang yang beranggapan bahwa mendaki gunung itu melelahkan. Selain melelahkan, mendaki gunung juga menyeramkan.

Pasalnya, banyak cerita yang beredar bahwa saat mereka mendaki gunung, mereka melihat berbagai penampakan yang menyeramkan.

Namun, benarkah hal tersebut?

Kisah Pendaki Gunung Lawu yang Hilang

Seorang pendaki di Gunung Lawu di laporkan menghilang pada 6 Juli 2020. Pendaki tersebut bernama Andi Sulis Setiawan berumur 18 tahun. Ia menghilang mendadak setelah lima menit sebelumnya mengantar rekannya untuk buang air kecil.

“Lima menit sebelum menghilang masih nganter saya pipis (buang air kecil). Jadi, awalnya saya bangunin mas Fajar, gak bangun, terus saya nekat keluar. Tapi saya melihat Andi lalu saya minta tolong antarkan.” Ungkap Nurhayati, rekan satu rombingan Andi.

“Setelah lima menit kemudian, dia gak ada. Saya toleh sudah menghilang” Lanjut remaja berumur 17 tahun tersebut.

Kejadian itu terjadi sekitar pukul 03.00 WIB pada hari Minggu 5 Juli 2020. Tepatnya di pos Hargo Dalem. Warga dukuh Sepelem Desa Kemuning, Kecamatan Ngargosoyo, Karanganyar, Jateng itu mengaku rombongan berenam mendirikan tenda di pos itu.

“Kejadian sekitar pukul 3 dini hari. Kami mendirikan tenda di pos Hargo Dalem” cerita tersebut juga dibenarkan oleh Fajar yang iktu rombongan pendakiannya.

“Iya memang paginya saat mau turun itu usai ngatar pipis Nurhayati baru lima menit hilang” Kata Fajar.

Fajar menambahkan karena rekannya Andi menghilang, ia melaor ke tim relawan yang kebetulan ada di pos Hargo Dalem.

“Karena kita cari tidak ketemu akhirnya lapor ke tim relawan dan kita berlima melanjutkan turun” tandas Fajar.

“Betul tadi dapat laporan lewat HT kalau ada temuan jenazah di jalur pendakian,” ujar Asper Lawu Selatan KPH Lawu, Marwoto.

Atas temuan tersebut, pihaknya belum bisa memastikan apakah jenazah merupakan korban pendaki yang dilaporkan hilang. Jenazah yang ditemukan itu, berjenis kelamin pria.

“Tapi kami masih belum yakin itu adalah jenazah korban yang dilaporkan pendaki hilang. Kami masih lakukan cross check untuk cocokan foto dulu.” Katanya.

Marwoto mengatakan saat ini tim relawan masih melakukan penyisiran atas hilangnya pendaki tersebut. “Kami masih lakukan pencarian dan semoga jenazah itu bukan pendaki yang dilaporkan hilang.”

Tim relawan yang diterjunkan tim untuk mencari ada sekitar 10 orang yang naik serta sudah menerjunkan BPBD dan juga polisi.

Kelima pendaki yang sudah turun merupakan warga Karanganyar Jateng yakni Nurhayati (17), warga Urukan Kecamatan Karangpandan, Erfan Hermanto (22), warga Kelurahan Kemuning, Fajar Nurhadi (19), warga Desa Telobo, Kecamatan Ngargoyoso, Muhammad Tri Danu Mahardika (17), Desa Krapyak Kecamatan Matesih dan Tegar Eka Prasetya (16), warga Desa Karangpandan.

Dari cerita ini, kita bisa menyimpulkan bahwa mendaki gunung memang sedikit berbahaya. Namun, kita sebagai pendaki juga harus bisa berhati-hati serta selalu mengawasi sekitar.

Kita juga tidak boleh lengah dan jangan sampai terpisah jauh dari rombongan kita. Karena kalau terpisah bisa saja kita menyasar sendiri dan tidak bisa menemukan mereka.

Mendaki gunung juga sebenarnya merupakan hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Namun, alangkah baiknya jika setiap pendaki terutama yang pergi dengan rombongan bisa menggunakan teknologi pelacak satu sama lain.

Hal ini dimaksudkan agar setiap pendaki bisa selamat dan pulang bersama tanpa ada yang hilang.

Previous article

Perkembangan Virtual Reality Di Dalam Game

Next article

Perkembangan Teknologi Informasi Dalam Berbagai Bidang

Join the discussion

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *